Monday, January 31, 2011

Anugerah buatmu ...

KUASA LAYANAN PEREMPUAN
  • Kaum lelaki mudah goyah dan alah dengan layanan yang baik, apa lagi dari perempuan yang sangat dikasihi seperti isteri dan ibu. Layanan baik yang disalurkan kepada orang yang berhak menerimanya, bukan sahaja mendatangkan keredhaan Allah tetapi memungkinkan apa yang diminta akan dipenuhi dengan mudah.
KUASA DOA PEREMPUAN
  • Doa perempuan lebih makbul dari lelaki kerana sifat penyayangnya lebih kuat dari lelaki. Sebagaimana hadis Rasulullah saw: “Doa ibu itu lebih cepat makbul.” Orang bertanya:”Kenapa ya Rasulllah?” Jawab baginda : “Ibu lebih penyayang dari bapa dan doa dari orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
KUASA TAQWA PEREMPUAN
  • Ketaqwaan adalah kuasa paling sempurna dan terbaik dalam menangani apa jua masalah. Orang yang paling bertaqwa adalah orang yang paling dikasihi Allah. Allah tidak akan membiarkan orang yang dikasihiNya melainkan dipelihara serta sentiasa dirahmatiNya.
  • Kuasa taqwa lebih mudah diperolehi oleh perempuan berbanding lelaki kerana kehalusan budi yang ada pada perempuan adalah merupakan penjara daripada melakukan hal-hal yang mendatangkan dosa. Berbanding lelaki yang sebahagian hidupnya berada di luar rumah serta terdedah kepada pelbagai godaan, cubaan dan ujian.
  • Kekuasaan taqwa ini pula adalah kemuliaan yang diberikan oleh Allah swt sehingga setiap lelaki pasti memerlukan perempuan untuk menghirupkan udara ini atau dalam perkataan lain setiap lelaki pasti dilahirkan oleh perempuan kecuali Nabi Adam a.s. Sekuat-kuat lelaki, kuat lagi perempuan kerana lelaki itu sendirinya datang dari perut perempuan yang menghamilkannya dan melahirkannya ke dunia, kemudian melatih, mendidik, memelihara dari kecil hingga dewasa.
  • Kemuliaan perempuan akan lebih nyata, jika ditambah dengan ketaatan kepada kaum lelaki yang berhak atasnya sebagaimana maksud hadis Rasulullah saw: “Perempuan yang taat kepada suaminya, semua burung di udara, ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan : semuanya beristighfar baginya (isteri) selagi mana ia masih taat kepada suaminya dan diredhainya (serta menjaga solat dan puasannya.

Sunday, January 30, 2011

HANYA PADAMU ...

Kini masa itu tiba,
Mengunjungi diri yang keresahan,
Sampai bila perlu aku resahkan,
Dan kini,aku biarkan ia berlalu.

Tuhan,
Andai bisa aku luahkan isi hati ini,
Ingin saja aku luahkan,
Agar semua tahu apa yang melanda jiwa,

Tuhan,
Andai boleh aku lakarkan isi hati ini,
kan ku lakarkan pada dinding dunia,
Agar mereka tahu kekeruan hati,

Tuhan,
Andai hatiku mampu berbicara,
kan ku biarkan ia berbicara melafaz kata,
Agar semua memaklumi kekalutan hati,

Namun,
Aku tahu,
Tak mungkin semuanya kan berlaku,
Kan ku tanggung sendiri,
Dan hanya KAU tempat ku mengadu,
Biarlah hanya KAU yang tahu
Biarlah hanya KAU yang memahami,
Biarlah hanya KAU yang mengerti,
Keperitan jiwa yang dideritai,

Ya RABBUL JALIL,
Ampunkan dosa ku,
Terimalah setiap amalan ku,
Jangan tinggalkan aku sendiri,

Duhai pemilik hati,
Duhai pemilik jiwa,
Duhai pemilik qalbi,
PadaMU ku serah segalanya,
Terimalah aku...

uhibbukuma FILLAH ...

Assalamualaikum buat semua..alhamdulillah,hari ini ALLAH bagi kekuatan untuk meneruskan penulisan walaupun tidak byk yg dpt dikongsi bersama..selawat dan salam buat qudwah hasanah,Rasulullah tercinta..bersyukur kehadrat ILLAHI hari ini saya mampu bernafas dan msih diberi nikmat islam dan iman walaupun graf iman turun naik,sekurang-kurang masih dihati..maaf juga buat sahabt yg sering berkunjung tp tiada "hidangan" istimewa buat kalian..kekuatan untuk menulis hasil sendiri masih belum ditahap yg stabil..a'sif dan trima ksih sudi berkunjung..

RINDU...satu kalimah yang betul-betul membuat hati saya sayu dan syahdu..saya yakin,semua manusia pernah merasai kerinduan..rindu pada keluarga,sahabt,guru-guru dan sbgainya..rindu saya kini semakin menebal pada 2orang insan yang telah byk membntu saya mengenal kehidupan..mengenal erti perjuangan..2orang insan ini juga sering membuat hati saya terusik untuk sentiasa mendekati ALLAH..kata-kata dan pertuturan yang dilontarkan,dijadikan nasihat dan teladan..teringat ketika diri dilanda fitnah yang telah mempengaruhi semua aktiviti saya dan menjejaskan nama saya,insan ini hadir memberi kekuatan..insan-insan ini yang sering menemani kesepian saya sewaktu di Maahad dulu..trima kasih untuk segala-galanya..

Tak mampu untuk meneruskan kalam..hanya ingin sampaikan lafaz "Wallahi inni uhibbukuma fillah jiddan"..kNgah,kTiah..walau jauh..kalian tetap dlm doa..

http://www.iluvislam.com/tazkirah/remaja-a-cinta/1525-pinanglah-daku-kerana-dakwah.html

http://www.iluvislam.com/tazkirah/remaja-a-cinta/1525-pinanglah-daku-kerana-dakwah.html

Friday, January 28, 2011

PeNdAmPiNg biDadArI ...

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.

Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.

Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka diperbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan wang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada dikapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikanseluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.

Thursday, January 27, 2011

ReNunGaN ...

assalamualaikum…
hati ini milik ALLAH,hanya ALLAH yg tahu apa isi hati hamba ini… tak tahu nak ckp mcm mn…bila diingat balik,sedih sgt rs hati…jiwa traesa kosong,hati terasa sunyi..mgkin ini tanda hamba ini jauh lagi dri ALLAH…sahabat,bantu diri ini dalam meraih cinta dan kasih ILLAHI..

ya ALLAH,
diri  ini penuh dgn dosa,hina dgn maksiat,layakkah aku menjadi penerus dakwah kekasih MU.. dgn sgala kekurangan diri…aku bukan setabah sumayyah,mampu mempertahankan iman walaupun diseksa dgn seksaan yg hebat…aku juga bukan lah pewaris bilal,masih mampu menyebut nama MU,walaupun nyawa dihujung hayat…aku hnya insan lemah yg mudah berputus asa,setiap kali KAU cuba menguji diri ini…insan yang hanya mudah menyerah tanpa usaha dan tawakkal yg  berterusan…

ya TUHAN,
aku memohon dgn sepenuh harapan,pimpinlah hati ku dgn magrfirahMu, terangi hatiku dgn cahayaMU,berikan kekuatan dan ketabahan hati setabah sumayyah,masyitah dan insan2 pilihan MU…berikan aku ketetapan hati dalam meneruskan usaha kekasihMU..

Wednesday, January 26, 2011

Buatmu Wanita..Coretan dari hatiku...

"Sesungguhnya, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan di akhirat dan mereka akan mendapat azab yang besar pada hari, (ketika) lidah,tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap segala sesuatu yang dulu mereka kerjakan..." (An-Nur : 23-24)

Melalui kalam suci ini,dapat kita hayati betapa ALLAH  menjaga dan memelihara kehormatan dan kesucian seorang muslimah mu'minah. Sungguh,kedatangan Islam telah meninggikan martabat seorang wanita ke posisi yang terlalu tinggi pada pandangan islam.Jika dirujuk didalam kitab cinta dari Pencinta Teragung,terlalu banyak teguran dan nasihat yang telah ALLAH berikan kepada kita sebagai muslimah untuk dijadikan motivasi serta panduan dalam menjalani kehidupan seharian.

Hadis yang telah saya ambil ini juga dipetik daripada kisah hadistul ifki yang mana telah diturunkan untuk membersihkan nama ibunda saiyidatina Aisyah. Jelas,ALLAH amat memelihara hambanya.Walaupun berita fitnah ini tersebar luas sehingga baginda nabi juga tersinggung dengan fitnah yang tersebar,namun ALLAH MAHA MEMELIHARA telah memelihara ibunda Aisyah kerana ibunda Aisyah adalah hamba yang taat dan soleh juga pendamping kekasihNYA,Rasulullah.Ibunda Aisyah juga turut sedih dan terganggu dengan fitnah yang telah dilemparkan.Namun,keyakinan dan tawakkalnya pada ALLAH amat tinggi dan inilah contoh terbaik untuk kita semua.

Sedih untuk memperkatakan tapi inilah hakikat.Wanita kini hilang rasa malu,hilang sikap lemah lembut,hilang kesopanan dan yang utama hilang kesolehan.{Ya ALLAH,lindungi aku.Moga ALLAH jauhkan.(Nauzubillah)}.Mereka bukan sedih menjadi bahan fitnah,malah mereka berbangga dengan apa yang telah mereka lakukan ini.Tidak dapat dinafikan lagi.Saya sebagai wanita sendiri terkadang malu dengan sikap manusia-manusia yang mengaku islam tapi menjual harga diri dengan begitu murah.Tidak keterlaluan jika saya berkata demikian.Keadaan dunia kini sudah cukup menggugat jiwa wanita muslim saya.Jiwa dan hati siapa yang terasa senang andai agama sendiri dipermainkan???Mendedahkan kehormatan diri mereka sama seperti membuka kehormatan wanita lain untuk dijadikan bahan tontonan umum.Astagfirullah.Betul-betul menggaunggu.

Sedarlah wahai akhawatku sekalian...
Auratmu,kehormatanmu..peliharalah semampumu..walaupun kau bukan Siti Khadijah,bukan seperti Siti Aisyah,tidak seperti Masyitah,bukan jua Siti Asiyah tapi ingat!!!kaulah sayap kiri mujahid islam yang kini sedang berperang di jalan ALLAH..Tanpamu mereka tak mampu meneruskan perjuangan itu..Kerna,itulah fitrah kejadianmu..Jangan kau biarkan dirimu menjadi fitnah duniawi..

Kata-kata ku ini buatmu insan yang bergelar wanita dari lubuk hatiku yang dalam sebagai peringatan buatmu dan terutama buat diriku...

Sunday, January 23, 2011

Adab Memberi & Menjawab Salam ...

Daripada Abi Hurairah, Rasulullah bersabda : "Orang yang berkenderaan hendaklah memberi salam kepada orang yang berjalan kaki. Orang yang berjalan kaki kepada orang duduk. Kumpulan yang sedikit kepada kumpulan yang ramai dan orang yang muda memberi salam kepada orang yang tua."

Ucapan salam merupakan suatu lambang yang mulia bagi umat islam.Tanda agama seseorang pun dapat dinilai daripada ucapan salam.Mungkin ada yang terasa bosan untuk terus membaca entri kali ini.Namun saya terasa terpanggil untuk terus menulis tentang topik ini.Hal ini kerana,ucapan "Assalamualaikum" ini sering menjadi bahan mainan bukan sebagai kata-kata doa atau ibadat bagi sesetengah orang.Malangkan...

Namun,mungkin ada juga diantara pembaca yang tidak tahu hukum keadaan memberi dan menjawab salam mengikut syariat islam yang sebenar.Bagi mana-mana pembaca yang sudah tahu,post ini boleh dijadikan tazkirah untuk sama-sama kita memperingati.Terdapat banyak hukum mengenai hukum memberi dan menjawab salam ini.Sebelum itu mari kita perhatikan hukum memberi salam.Hukum memberi salam adalah sunat apabila :
  1. Bertemu antara dua saudara seislam
  2. Memasuki sesuatu majlis
  3. Keluar dari majlis ilmu
  4. Memasuki rumah sendiri atau masjid
  5. Memulakan percakapan dan ucapan
  6. Menziarahi dan melalui kubur.

Walaupun hukum memberi salam ini sunat tapi keadaan ini boleh berubah menjadi makruh apabila :
  1. Orang yang terlalu mengantuk,sedang tidur atau berjimak.
  2. Orang yang berada dalam tandas.
  3. Orang yang sedang makan.
  4. Orang yang sedang azan,solat,baca quran,talbiah,tasbih dan berzikir.
  5. Orang yang sedang mengadili dan menjatuhkan hukuman atau penyelesaian terhadap manusia.
  6. Orang yang sedang mengumpat atau melihat maksiat.

 Menurut pendapat yang terkuat dan jumhur fuqaha' syafi'e menyatakan bahawa tidak harus memberi salam kepada orang kafir. Al-Mawardi dalam kitabnya "Al-Hawi" menyatakan dua pendapat iaitu :
  1.  Tidak harus memberi salam kepada orang kafir.
  2.  Harus memberi salam dengan menyebut "Assalamualaika" bukan "Assalmualaikum",namun pendapat ini ditentang oleh An-Nawawi dan dianggap ganjil.

Manakala bagi hukum menjawab salam dari orang kafir juga terdapat dua pendapat iaitu :
  1.  Menurut jumhur,hendakalh dengan lafaz "Waalaikum".
  2. Al-Mawardi berpendapat bahawa harus menjawab dengan lafaz "Waalaikumussalam" tanpa meneyebut "Warahmatullah wa barakatuh".

Hal ini dapat disandarkan berdasarkan hadis Nabi daripada Anas bin Malik Radiallahuanhu bahawasanya Nabi bersabda yang bermaksud : "Apabila ahli-ahli kitab (orang kafir) memberi salam kepadamu, maka jawablah : Waalaikumsalam..."

Emmm...apa pula hukum seorang lelaki memberi salam kepada seorang perempuan yer???!!!Ayuh sama-sama kita lihat hukum yang telah ditetapkan.
  1. Salam seorang lelaki kepada seorang perempuan @ sebaliknya yang tidak mempunyai hubungan mahram adalah tidak disunatkan kecuali dalam keadaan aman daripada segala fitnah. Namun hukum ini boleh berubah menjadi harus apabila untuk tujuan pendidikan seperti ucapan salam pelajar kepada guru.
  2. Jika seorang lelaki memberi salam kepada seorang gadis remaja maka tidak harus dia menjawab.
  3. Jika seorang gadis memberi salam kepada seorang lelaki maka makruh bagi lelaki tersebut menjawab salam tersebut.
Kesimpulannya,jika kita mengahayati hikmah sebenar ucapan salam ini kita akan merasai nikmat ucapan ini kerana ucapan ini bukan ungkapan biasa tetapi disebalik ungkapan ini terselit seribu rahmat dan azimat untuk kita.Tak percaya???Cubalah..Selamat beramal...


Hayati bersama...
Ucapan Salam
Album : Cahaya Hati
Munsyid : Aeman
Tebarkanlah salam antara kita
Walau dimana sahaja
Walau siapa jua
Walau siapa sahaja
Walau dimana jua

Di masa kini ramai umat islam
Melupakan salan salam ia syiar Islam

Kenapa rasa malu
Untuk mengucapkan salam
Adakah cara yang lain
Lebih baik darinya
Oleh itu, yakinlah kita salam yang lebih utama

Merahkan alam ini
Saling memberi salam
Hidup aman bahagia
Inilah Syurga dunia...

Friday, January 21, 2011

Andaiku Pergi

Album :
Munsyid : Mirwana
http://liriknasyid.com


Cerita hidup kian berlalu
Membawaku ke penghujung
Kaku langkah kian lemah
Kelu lidah untuk bicara

Langit jingga warna senja
Desir bayu membisik duka
Kealpaan nan semalam
Inginku lepaskan luka silam

Bersama rayu doa
Damba keampunanNya

Andai diriku pergi
Tinggalkanmu sendiri
Usah kau sedih
Usah tangisi duga dari Ilahi

Andaiku pergi dulu
Tiba tika dan waktu
Telah tertulis takdir untukku
Perjanjian yang Maha Agung
Doakanku sejahtera disisiNya

Rasa gentar rasa rindu
Bertarung di fikiranku
Wajah ceria, senyum manja
Kisah kita menghapus resah

Maafkan diriku kasih
Kerna buat kau menangis
Restuiku dengan cinta
Jangan kau titiskan air mata

Pintaku redhailah
Terima kasih atas segalanya

Hidup ini sementara
Ujian pasti setia hati
PadaMu kekasih

Moga rahmat hidayahMu
Mengiringiku, menemaniku
Saat akhir waktu

Bersaksi diriku
Tiada lain hanya Kau satu
Memiliki cintaku
Ku serah segalanya kepada Mu

Thursday, January 20, 2011

Kisah Tudung Labuh...

Keadaan bertukar sunyi di dalam kereta. Penuh dengan emosi.
Wanita yang berumur dalam lingkungan 40 tahun mengambil nafas panjang setelah usai dengan bangkangannya. Stereng kereta cuba dikawal sebaik mungkin. Humaiya terduduk hampa di kerusi belakang . Dahinya berkerut , matanya sedikit sembap akibat tangisan tadi. Riak wajahnya yang sukar ditafsirkan jelas menunjukkan pelbagai persoalan bermain di fikiran .
"Biar betul ibu ? Setelah sekian ini ? Setelah aku meletakkan komitmen besar terhadap imej ku ini ? Iman ku membantah seratus peratus."
Itu kisah kelmarin , dan dia masih memprotes.
* * * * * *
"Awak setuju dengan keputusan ibu?"
Humaiya mengajukan soalan kepada adiknya yang mencari target bagi memasukkan biji karom ke dalam lubang sasaran.
"Mestilah tak! Qis rasa akak dah masuk sebulan bertudung labuh , takkan nak berhenti kat tengah jalan?"
Tupp! Biji carrom berjaya dimasukkan. Giliran Humaiya pula memasukkan target, tetapi otaknya sedang berfikir ligat. Fokusnya hilang kepada permainan karom, dia lebih tertumpu kepada konflik yang dihadapinya sekarang.
Tiada angin tiada rebut, tiba-tiba ibu Humaiya menghalang dia bertudung labuh lagi. Humaiya sedar, ibunya sejak mula memang menunjukkan respon kurang bersetuju apabila dia mahu bertukar imej, Tetapi ayahnya selaku ketua keluarga sentiasa meletakkan titik noktah bagi setiap keputusan sekaligus membuatkan ibunya terpaksa mengiyakan saja.
Ayahnya memberi lampu hijau kepada Humaiya untuk bertudung labuh. Mungkin dia menyukai anak gadisnya bertudung mengikut syariat kalau mahu dibandingkan dengan pemakaian tudung gaya Ariani yang sudah menjadi ikutan ramai wanita. Tudungnya sangat kecil, langsung tidak mematuhi perintah Allah di dalam Al-Quran yang mengarahkan kaum hawa supaya menutup belahan baju dan dada. Ayah Humaiya juga mengerti, yang anaknya mahu berhijrah. Menjadi antara golongan remaja yang diredhai Allah.
Humaiya yang kini sering menjaga solatnya.
Humaiya yang kini lebih elok keperibadiannya.
Humaiya yang kini sering membasahi bibir dengan asma Allah.
Humaiya yang kini sentiasa cuba memperbaiki diri.
Dia sedikit pilu apabila ibunya gagal memahami.
Mindanya memutarkan kembali dialog bersama ibunya kelmarin.
"Ibu rasa ibu tak nak awak bertudung labuh lagi. Boleh ikut cakap ibu?"
"Tapi bu, akak ...".
"Ibu rasa akak pakai semata-mata ikut kawan, tunggu jelah bila akak dah besar. Sekarang ni akak muda lagi, masih belum waktunya. Ibu rasa awak belum bersedia nak pakai secara total, entah entah masa akan datang awak tak nak pakai tudung labuh lagi. Tolonglah, tak usah lah nak bertudung labuh lagi, akak bukan budak sekolah agama, budak sekolah biasa je."
Nada suara ibu Humaiya yang agak tinggi ketika itu menyebabkan dia terkelu. Dia tak mampu berhujah, meskipun segala yang dikatakan oleh ibunya itu terlalu bercanggah dengan pendiriannya yang sebenar. Waktu muda sebeginilah sewajarnya remaja memperbaiki diri, bagaimana jika ajal menjemput kita di kala kita lalai pada usia remaja? Ajal itu tidak mengenal umur ibu!
Apabila diimbas kembali, Humaiya sedikit kesal kerana gagal mempertahankan pendiriannya, mahu saja dia meluahkan segala yang terbuku di lubuk hati. Mahu sahaja dia mengadu kepada ayah, tetapi rasa berat hati kerana ayahnya berada di luar negara menguruskan krisis kerja. Takut menambahkan tekanan ayah tercinta, lagi pula dia rasa masih mampu memujuk ibunya. Dia juga tahu kalau ayah malas mahu bertelagah dengan ibu.
"Akak! Cepatlah, giliran akak ni." Balqis merungut melihat kakaknya mengelamun.
Humaiya tersentak.
"Oh, maafkan akak ya. Akak dah takde mood nak main. Sambung nantilah."
Balqis mengeluh panjang.
Humaiya turun ke dapur untuk meneguk secawan air. Air mukanya berubah apabila melihat mamanya di dapur. Dia segera mengalihkan pandangan supaya tidak bertembung mata dengan ibunya. Ibunya cuba mencari perhatian Humaiya, tetapi gagal.
"Humaiya! Kenapa bermasam muka dengan ibu? Humaiya mahu jadi anak derhaka ke!."
Humaiya tersentak. Ibunya tiba-tiba melenting.
"Akak minta maaf ... akak tak bermaksud nak..."
"Itulah Humaiya! Taksub sangat nak bertudung labuh! Kenapa susah sangat nak patuh apa yang ibu tak kasi buat!"
Belum sempat Humaiya berkata kata, ibunya kembali melenting. Humaiya segera beredar ke bilik, tangisannya menjadi semakin esak. Balqis terkejut melihat reaksi kakaknya yang sedemikian tetapi tidak berani menegur. Dia segera keluar dari bilik, memberi privasi kepada kakaknya.
"Maafkan akak bu..akak tak bermaksud nak jadi anak derhaka..."
Tangisan Humaiya makin laju, mukanya disembam ke bantal. Dia memerlukan kata-kata penguat, kata-kata nasihat bagaimana dia mahu mengendalikan masalah ini. Keyakinan Humaiya runtuh menghempap bumi. Hatinya terluka apabila digelar sebegitu oleh ibunya. Rasa kesal menyelubungi diri.
"Urghh, tak patut aku bermasam muka!."
Dia teringat nasihat ustazahnya di sekolah yang menasihatinya supaya jangan sekali-kali menunjukkan sikap derhaka kepada ibu bapa walaupun kadang-kadang kita tak sehaluan dengan mereka. Humaiya beristighfar. Menyesali diri. Dia sepatutnya bersabar, memohon kepada Ya Rabb supaya melembutkan hati ibunya. Dia menghentikan tangisnya sambil membetulkan duduk di atas katil.
"Aku kena betulkan keadaan."
Humaiya nekad.
* * * * * * *
Surat itu dilipat rapi setelah berulang kali dibaca, bagi memastikan susunan ayat diatur sempurna. Supaya mudah difahami ibunya. Humaiya menyelinap masuk ke dalam bilik ibunya, jam dinding yang tergantung dipandang sekilas. Dua pagi. Diperhatikan pula wajah ibunya yang sedang diulit mimpi, timbul rasa kasihan dalam hati Humaiya. Sudah masuk dua minggu mamanya tidur sendirian dek kerana ayahnya yang berada di luar negara.
Dia segera mempercepat langkah, namun dengan berhati-hati supaya ibunya tak terjaga. Gayanya seperti pencuri yang memecah masuk ke rumah orang. Surat dalam genggamannya segera diletakkan di atas meja solek ibunya .
"Harap harap ibu baca lepas aku pergi besok...", monolog Humaiya.
Awal pagi berikutnya Humaiya segera bersiap. Setelah usai dia segera berjalan keluar dari rumah dengan langkah yang berat.
* * * * * *
"Humaiya ....".
Ibu Humaiya menitiskan air mata membaca surat Humaiya . Surat itu menjelaskan segala isi hati Humaiya, ibu Humaiya sedikit kesal kerana menegah anaknya daripada melakukan perkara yang baik. Kesal kerana dia sentiasa mempersoalkan perbuatan mahmudah dan bukannya mempersoalkan perbuatan mazmummah. Titisan demi titisan air mata jernih berderai turun di pipinya...
* * * * * *
Waktu kelihatan sudah hampir melepasi tengah hari. Kelihatannya Humaiya dalam perjalanan pulang ke rumah setelah selesai latihan bola jaring di sekolah. Walaupun sedang musim cuti persekolahan akhir tahun, pasukan sekolahnya kekal aktif supaya dapat bersedia sebaik mungkin untuk perlawanan pada musim persekolahan tahun depan.
"Assalamualaikum! Humaiya dah balik!"
Humaiya membuka tali kasutnya lalu memasuki pintu rumah .
"Eh, akak dah balik. Penat latihan bola jaring tadi?"soal Balqis.
"Penat sangat..."
"Ohh, akak mesti lapar kan? Ibu masak special untuk akak tau."
Humaiya senyum girang. Kelihatan ibunya berjalan menuju ke arahnya lalu memeluknya erat.
"Ibu minta maaf...ibu tak patut halang Humaiya, lagipun kalau Humaiya pakai macam tu terjagalah sikit anak ibu ni..."
Alhamdullilah ! Satu lafaz syukur diucapkan .
"Humaiya pergilah masuk bilik, tengok ada apa atas katil."
Humaiya terus mengatur langkah laju ke biliknya, sebaik membuka pintu dia terlihat sehelai tudung labuh di atas katil. Tudung labuh berwarna krim dan masih berbau kedai. Kelihatan ada sehelai nota di atasnya .
"Sehelai Tudung Labuh"
from  ibu :)
Humaiya tersengih.
TAMAT.
from : iluvislam.com

Wednesday, January 19, 2011

buatmu TEMAN ...

Sahabat,
Hadirmu dalam diari hidupku tanpa rencana sesiapa,
Kau dan aku jalani kehidupan yang berbeza,
Kini kau dan aku adalah sama,
Membawa misi mencari REDHA pencipta,

Telah kita jalani semua episod suka duka bersama,
Mengharungi detik-detik persahabatan yang menguji keimanan,
Kehadiranmu mengajar aku erti persahabatn yang terjalin,
Terkadang aku jatuh tersungkur,rebah dan tidak berdaya,
Namun,
Dengan huluran tanganmu,
Aku bangkit walau perit,
Kerna kini aku sedar,
Keperitan itu membawa seribu kemanisan untuk kita,

Sahabat,
Walaupun jasad kita terpisah kini,
Hanya satu inginku khabarkan,
Bahwa hatiku bersamamu sentiasa,
Doa RABITHAH pengikat hati antara kita,
Kerna disini bermula segala episod hidup seorang mujahidah...



Sahabat,
Biar insan lain menghina,
Jangan kita terhina,
Biar insan lain mencemuh,
Jangan kita mengeluh,
Biar insan lain mencaci,
Jangan kita membenci,

Kerna,
Ingatlah sahabatku sayang,
Selagi kau bersamaNYA,
Kau tak perlukan sesiapa...

Sahabatku,
Ketahuilah bahawa aku amat menyayangimu,
Terlalu mencintai dirimu,
Selagi kau bersamaku,
Meneruskan tugasan ini dengan hatimu,
Juga membawa aku menyusuri jalan menuju syurga abadi,
Dalam merebut REDHA ILLAHI...

Tuesday, January 18, 2011

Monday, January 17, 2011

salam ukhuwah...

Assalamulaikum buat semua sahabiah..
hanya sedikit pengenalan untuk entri sulung ini..
mohon nasihat dan teguran dari semua..
renungi kata-kata ini sebagai buah tangan dari al-'Abid..



Bersama air mata pasti ada senyuman,
Bersama kesadihan ada kegembiraan,
Bersama cubaan ada kenikmatan,
Bersama musibah ada anugerah,
Semuanya merupakan ketentuan yang pasti dan prinsip hidup yang digariskan ALLAH...